Konsep simbolisme pohon hayat pada Pusat Batik Yogyakarta
DOI:
https://doi.org/10.37631/pendapa.v1i2.99Keywords:
Batik warisan dunia, Pusat Batik Yogyakarta, Penjagaan-perkembangan-pembinaan, Konsep disain arsitektur, Simbol pohon hayatAbstract
Batik adalah karya budaya asli Yogyakarta dan Indonesia secara umum yang telah ditetapkan oleh Unesco sebagai warisan budaya intangible dunia. Penetapan batik sebagai karya budaya dunia oleh Unesco mendorong dilakukannya penelitian untuk perlindungan terhadap batik. Tujuan penelitian ini untuk menghasilkan konsep disain wadah atau badan Pusat Batik Yogyakarta. Konsep disain ini merupakan manifestasi dari kebutuhan akan wadah fisik yang berfungsi untuk menjaga, mengembangkan dan membina batik. Hal tersebut dilakukan sebagai bentuk implementasi safeguarding terhadap warisan budaya intangible batik oleh Unesco. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode studi lapangan dan literatur; sedangkan metode disain digunakan metode simbolisme menurut Broadbent, 1980. Dari penelitian yang dilakukan diperoleh temuan bahwa batik sebagai warisan dunia merupakan bagian dari hasil budaya dunia yang turut mewarnai budaya dunia tak benda yang layak untuk dijaga, dikembangkan dan dibina agar tetap lestari dan berkelanjutan terus menerus keberadaannya. Dari penelitian ini juga telah berhasil ditemukan  konsep disain Pusat Batik Yogyakarta sebagai wadah penjaga batik dengan mengambil motif pohon hayat sebagai simbol perwujudan tata dan bentuk masa (bentuk bangunan).Â
References
ANTARA News. 2009. Artikel Batik Indonesia Resmi Diakui UNESCO.
Baker, Walter D. and Ida S. 1920. Batik And Other Pattern Dyeing. Atkinson, Mentzer & Company: Chicago.
Broadbent, Geoffrey. 1980. Sign, Symbol, and Architecture. New York: John Wiley & Sons.
Creswell, John W. 2010. Research Design Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif dan Mixed. Pustaka Pelajar. Yogyakarta
Hamzuri. 1985. Batik Klasik. Djamban. Jakarta
Honggopuro,K.R.T.Kalinggo.2002. Bathik sebagai Busana Dalam Tatanan Dan Tuntunan. Yayasan Peduli Keraton Surakarta Hadiningrat Surakarta
J.L.A. Brandes. 1920. Brandes Ten is Point
Kartika, Dharsono Sony. 2007. Budaya Nusantara. Rekayasa Sains. Bandung.
Kushardjanti, Nyi. Tak bertahun. Makna Filosofis Motif & Pola Batik. https://jurnal.ugm.ac.id/wisdom/article
Latifa, Arisanti. Tak bertahun. Batik dan Tradisi Kekinian. https://tirto.id/asal-mula-batik-sebagai-pakaian-bangsawan-bUaY
McCabe Eliot, Inger. 1984. Batik : fabled cloth of Java. Periplus Edition C.N. Potter. Singapore. http://eawpdf.abhappybooks.com.
Parmono, Kartini. 2017. Simbolisme Batik Tradisional. https://media.neliti.com/media/publicatio
https://regional.kompas.com. 2017 Cerita di Balik Batik Khas Keraton Yogyakarta
Pemerintah Kota Yogyakarta. 2010. Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Yogyakarta Tahun2010–2029.Yogyakarta.http://www.jkpp.org/downloads/perda2-2010_provDIY
UNESCO. 2009. Convention for The Safeguarding of The Intangible Cultural Heritage. https://ich.unesco.org/en/decisions
Valerie J. Jenesick. 2009. Tarian Desain Penelitian Kualitatif: Metafora, Metodolatri, dan Makna Dalam Denzin, Norman.K. dan Lincoln, Yvonna.S. (ed). Handbook Of Quality Research. Pustaka Pelajar. Yogyakarta
Downloads
Published
Issue
Section
License
Authors retain copyright and grant the Pendapa Architecture Journal  right of first publication with the work simultaneously licensed under a Creative Commons Attribution License (CC BY-SA 4.0) that allows others to share (copy and redistribute the material in any medium or format) and adapt (remix, transform, and build upon the material) the work for any purpose, even commercially with an acknowledgement of the work's authorship and initial publication in JELE (Journal of English Language and Education). Authors are able to enter into separate, additional contractual arrangements for the non-exclusive distribution of the journal's published version of the work (e.g., post it to an institutional repository or publish it in a book), with an acknowledgement of its initial publication in JELE (Journal of English Language and Education)
Authors are permitted and encouraged to post their work online (e.g., in institutional repositories or on their website) prior to and during the submission process, as it can lead to productive exchanges, as well as earlier and greater citation of published work (See The Effect of Open Access).
Â






