The reactivation of socio-cultural spaces through tactical ruralism at Padepokan Sekar Jagad

Reaktivasi ruang sosial budaya melalui tactical ruralism di Padepokan Sekar Jagad

Authors

  • Alexander Rani Suryandono Universitas Gadjah Mada

DOI:

https://doi.org/10.37631/pendapa.v9i1.2103

Abstract

Paper ini memaparkan potensi tactical ruralism untuk revitalisasi kehidupan sosial budaya pedesaan melalui intervensi ruang berbasis komunitas di Mutihan, Yogyakarta, Indonesia. Revitalisasi diawali kompleks bangunan yang digunakan kelompok tari Sekar Jagad, ruang yang berfungsi sebagai simpul budaya yang menghubungkan warisan, identitas, dan perdagangan sehari-hari. Fokus berpusat pada Joglo yang didesain ulang oleh SASO Architects. Joglo asli dibawa dari Kabupaten Gunung Kidul oleh Holcim Foundation untuk digunakan sebagai tempat latihan tari. Paper ini mengungkap proses pembongkaran dan perakitan Joglo, yang melibatkan komunitas, tidak hanya penduduk lokal tetapi juga mahasiswa internasional. Selama upacara pembukaan, pasar malam muncul di daerah sekitar Joglo. Pasar tersebut mencontohkan suatu bentuk tactical ruralism yang menegaskan kembali peran pedesaan terhadap pengaruh perkotaan yang meluas. Dengan menggunakan eksplorasi spesifik lokasi dan dokumentasi visual, penelitian ini mengungkapkan bagaimana kegiatan yang bersifat sementara tersebut berfungsi sebagai katalisator untuk penguatan budaya dan keberlanjutan ekonomi lokal. Temuan ini menunjukkan bahwa tactical ruralism, ketika berakar pada infrastruktur budaya seperti Sekar Jagad, dapat menawarkan model yang tangguh untuk pembentukan tempat dan sirkularitas. Pendekatan ini berkontribusi pada diskusi tentang perencanaan desentralisasi, otonomi pedesaan, dan reklamasi ruang budaya melalui strategi-strategi taktis yang lunak.

This study investigates the potential of tactical ruralism for revitalizing rural socio-cultural life through community-driven interventions in Mutihan, Yogyakarta, Indonesia. Anchored by the building complex of Sekar Jagad dance group, the site serves as a node linking culture, identity, and everyday commerce. The focus centers on redesigned Joglo by SASO Architects. The original Joglo was brought from Gunung Kidul regency by Holcim Foundation to be used for Sekar Jagad’s dance practice, semi outdoor area. This paper also revealed the process of disassemble and assemble process of the Joglo itself, which involved communities, not only locals but also international students. During the opening ceremony, a night market emerged in surrounding area. The market exemplifies a form of tactical ruralism reasserting rural within the expanding periphery of urban influence. Using site-specific exploration and visual documentation, this research reveals how such ephemeral yet consistent activities serve as catalysts for cultural reinforcement and local economic sustainability. The findings suggest that tactical ruralism, when rooted in cultural infrastructure like Sekar Jagad, can offer a resilient model for place-making and circularity. This approach contributes to discussions on decentralized planning, rural autonomy, and the reclamation of cultural space through soft, tactical strategies.

Downloads

Published

2026-01-09

Issue

Section

Articles